Sampah, Kompos, Bahan Bakar, dan Listrik

Sampah Bandung

Bandung Penuh Sampah: Tumpukan sampah menggunung pernah menjadi fenomena menarik di Kota Bandung. Sejenak kita bisa lupa bahwa Kota Bandung pernah dijuluki Kota Kembang dan bahkan Parijs van Java.

Mmm, masih ingat saat Bandung dipenuhi sampah? Ingat bahwa sampah pernah berceceran di sepanjang Jalan Dago? Bahkan di pintu masuk Kota Bandung sekalipun (Pasteur), sampah menggunung hingga mengambil sediki ruas jalan di sekitar ramp Pasupati. Dan baunya itu yang gak nahan! Sekali kena air lindi, roda mobil Anda akan bau berhari-hari. Untungnya waktu itu presiden kita langsung ngasih titah untuk bikin TPA baru, walaupun agak jauh jaraknya dari Bandung. Mungkin ngga yaa masalah itu keulang lagi? MUNGKIN! Trus gmn dong?

Liat kan gambar di atas? Kalo kita ngga secepetnya cari cara menanggulangi atau memanfaatkan sampah, dijamin keadaan kayak gini bakal segera terulang..

“Btw.. berbicara tentang air lindi, ada yang ingat berapa indeks BOD dan COD dalam air lindi?? Apa teman-teman pernah membayangkan apabila air lindi itu masuk ke dalam tanah, lalu masuk meresap hingga ke sumur-sumur penduduk?? Dengan BOD dan COD yang sedemikian tingginya, kira-kira apa yang bakal terjadi??”

Kemarin saya baru saja melihat beberapa artikel bagus soal ‘waste utilization’, kira-kira artikel tersebut ngasih saran begini soal bagaimana caranya memanfaatkan sampah agar bisa menghasilkan energi.

Cara memanfaatkan sampah paling jadul: jadikan KOMPOS aja!

Cara ini cukup berarti lho.. sampah yang bisa dikurangin dengan cara ini cukup banyak kok. Dan teknologinya sederhana. Buktinya Divisi Workshop HIMATEK aja bisa bikin dan ngasih penyuluhan.

Membuat KomposPupuk Kompos

Sampah bisa dijadiin bahan bakar.

Pada dasarnya sampah itu tergolong dalam kategori biomassa (terutama sampah organik). Belakangan banyak diomongin kan? Biomassa bisa digunakan sebagai bahan bakar walaupun nilai kalornya cukup jauh di bawah bahan bakar minyak. Tapi dengan dilakukan pencampuran (dengan batubara misalnya), terbukti kalo biomassa bisa dijadikan bahan bakar alternatif masa depan. nah, kalo biomassanya sampah, gimana cara ngolahnya biar jadi energi? Inget kuliah SU II nggak? Pas Pak Heri ngejelasin tentang proyeknya soal gasifikasi? Sampah sendiri bisa dijadikan bahan bakar kompor gasifikasi (jadi kayak propan buat elpiji gt..). Lumayan cemerlang kan idenya? Kalo berhasil,yakin bisa ngurangin sampah banyak banget yang berarti bisa menghasilkan energi yang banyak juga. Apalagi bisa dibilang ini merupakan sumber energi terbarukan kan? Semester lalu, saat saya sedang group meeting penelitian di kampus saya, ada anak S2 yang penelitiannya tentang ini, dan dia rencananya memanfaatkan sampah rumah tangga. Kebayang kan betapa cara ini bisa ngurangin sampah berapa banyak? Berikut diagram alir gasifikasi biomassa (biomassanya dianggap sampah yaa) dan gasifiernya:

Diagram Proses

Bahan Bakar

Salah satu cara paling revolusioner menurut penulis, perkenalkan: PLTSa!

Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) baru ada satu unit di Indonesia. Dan harusnya Bandung bangga dengan adanya teknologi ini di sana (or should i say ‘di sini’? hehe..). Yep, pembangkit listrik tenaga sampah pertama resmi dibuka akhir september kemaren. Dimana sih? PLTSa pertama ini terletak di TPA Babakan di Desa Babakan Kecamatan Ciparay Kabupaten Bandung. PLTSa ini berkapasitas sekitar 500 kW dimana sampah yang akan diolah sekitar 30-50 ton per hari (WOW!!). Pembangunan PLTSa Babakan ini merupakan pilot project implementasi pemusnahan sampah di Indonesia dalam bentuk pembangkit listrik tenaga non-komersial. Proyek ini juga merupakan bentuk dari CSR PT PLN. Desain sistem ini sepenuhnya dilakukan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) ITB Bandung (akhirnya kita bisa berguna juga buat masyarakat..). Adanya PLTSa ini diharapkan menjadi salah satu cara memperpanjang umur TPA di sekitar Bandung.

Kepala LPPM ITB, Dr. Ir. Ari Darmawan Pasek ngomong gini soal PLTSa ini:
“Pada dasarnya PLTSa ini merupakan PLTU berbahan bakar sampah. Turbin uap yang digunakan akan berbentuk condensing type diproduksi oleh PT NTP (NUsantara Turbin dan Propulsi) sementara generatornya diciptakan oleh PT Pindad.” (Teringat sesuatu? hahaha kalo turbin uap, siklus apa yaa? hahaha..)

Sayang penulis belum mendapat gambar yang menunjukkan PLTSa ini. Namun diyakini, dengan adanya PLTSa ini, permasalahan sampah sedikit demi sedikit akan berkurang. Semoga segera tumbuh PLTSa-PLTSa yang lain di seluruh Indonesia.

sumber klik sini

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s