Apa Itu Teknologi Plasma dalam dunia Kimia?

Sekilas Tentang Teknologi Plasma

Plasma dalam teknologi plasma dapat didefinisikan sebagai gas yang terionisasi, terdiri dari partikel neutron, ion positif, ion negatif dan elektron yang merespon secara kuat medan magnetik. Plasma juga dapat dikatakan sebagai atom yang kehilangan elektron karena beberapa atau semua elektron di orbit atom terluar telah terpisah dari atom atau molekul. Hasilnya adalah sebuah koleksi ion dan elektron yang tidak lagi terikat satu sama lain. Untuk menghilangkan elektron dari atom dibutukakan suatu energi, energi tersebut berasal dari panas, listrik ataupun cahaya. Partikel-partikel ini terionisasi (bermuatan) sehingga terbentuklah plasma.

Berdasarkan temperaturnya, plasma dapat dikategorikan menjadi:

  1. Plasma termal : Telektron ~ Tgas
    Suhu elektron dan gas berada dalam keadaan kesetimbangan (quasi-equilibrium) akibat pemanasan Joule (Joule heating).
    Contoh: plasma matahari
  2. Plasma non-termal: Telektron > Tgas
    Telektron ~ 1 eV (~ 10000 K); T ~ suhu ruang
    Contoh: Aurora borealis

Baca lebih lanjut

Pengolahan Sekam Padi Menjadi Bahan Bakar Alternatif Melalui Proses Pirolisis Lambat

Jumlah sekam padi ini sangat melimpah dan sampai sekarang hanya sejumlah kecil saja yang dimanfaatkan untuk pembakaran dan pembuatan batubata. Aktivitas lain pemanfaatan sekam padi adalah untuk membuat arang sekam untuk media tanaman. Bagaimanapun juga aktivitas untuk memproses sekam padi menjadi bahan bakar alternatif melalui proses pirolisis lambat masih sangat terbatas dilakukan di Indonesia.

Menurut (Gaur & Reed, 1998) dari analisis ultimate dan analisis proximate pada sekam padi terlihat bahwa sebagian besar sekam padi terdiri dari volatil. Dengan kadar volatil yang tinggi diharapkan dapat diperoleh gas dan cairan dari proses pirolisis dalam jumlah yang banyak. Kadar karbon dan kadar oksigen dalam sekam padi juga hampir
berimbang sekitar 35-38%. Ini menunjukkan bahwa dalam minyak pirolisis nantinya akan mempunyai kadar oksigen dalam jumlah yang banyak. Kandungan belerang dalam sekam padi adalah nol. Akibatnya hasil pembakaran dari minyak pirolisis sekam padi akan lebih ramah lingkungan dibandingkan hasil pembakaran batubara. Zat silika yang terdapat dalam sekam padi mencapai 16,98% (Hambali, 2007). Nilai kalor dari sekam padi adalah sekitar 14,8 MJ/kg dan sedikit dibawah nilai kalor kayu (~ 17-20 MJ/kg).

Dengan menggunakan pirolisis, bahan bakar padat dapat diolah menjadi gas, cairan dan padatan. Teknologi pirolisis yang sederhana adalah pirolisis lambat. Sifat-sifat minyak pirolisis (bio oil) dari biomasa sangat bergantung pada jenis biomasa dan parameter operasi seperti temperature reaksi dan waktu tinggal biomasa dalam reaktor. Pemanfaatan secara konvensional dari bio oil adalah sebagai bahan bakar untuk kompor minyak skala rumah tangga. Namun demikian, sebelum minyak tersebut dapat digunakan perlu dilakukan penelitian mengenai sifat-sifatnya. Diantara sifat-sifat utama dari bahan bakar adalah viskositas, nilai kalor, stabilitas, dan komposisi bahan penyusunnya. Selain itu, unjuk kerja dari kompor minyak skala rumah tangga dengan menggunakan minyak pirolisis juga perlu diteliti.
Walaupun dengan pirolisis cepat dihasilkan cairan yang lebih banyak, tetapi proses ini jauh lebih rumit dan sangat beresiko dibandingkan proses pirolisis lambat. Dengan proses pirolisis lambat hanya dihasilkan cairan sekitar 30%, tetapi 35% gas yang dihasilkan dapat
dibakar langsung untuk menyediakan panas yang diperlukan pada proses pirolisis (Suyitno,2008).

Dengan mengkombinasikan data eksperimen dan pemodelan, beberapa mekanisme reaksi pirolisis telah dikembangkan oleh beberapa peneliti. Mekanisme utama adalah konversi biomasa menjadi gas, cairan (tar) dan char (lihat Gambar 2). Berbeda dengan gas, cairan (tar) adalah gas yang dapat dikondensasi. Peneliti lain mengusulkan reaksi tar sekunder (secondary tar reaction) yang terjadi pada temperatur yang tinggi. Pada proses terakhir ini, tar terdekomposisi menjadi gas dan bentuk lain tar.

lebih jelasnya klik sini

Menyulap Biomassa Menjadi Energi

Sejak zaman purba manusia telah mengenal pembakaran biomassa. Pembakaran bersifat sederhana, biomassa dibakar dan menghasilkan panas yang digunakan untuk berbagai macam kebutuhan.cara seerhana ini menjadikan produk energi yang dihasilkan menjadi tidak efektif dan efisien.

Zaman sekarang, ketika teknologi mulai maju, teknologi pengolahan biomassa menjadi energi mengalami kemajuan pula. Dibawah ini akan di jelaskan berbagai macam bentuk pengolahan biomassa menjadi energi melalui pembakaran ataupun proses non-pembakaran.

Baca lebih lanjut

REAKTOR NUKLIR PWR ( PRESSURIZED WATER REACTOR )

Model Reactor Nuklir yang terletak di lantai 1 Anjungan Museum Listrik ini merupakan model dari reaktor nuklir PWR ( Pressurized WaterReactor ) atau dikenal dengan sebutan Raktor Air Tekan. Model reaktor ini ditampilkan dengan suatu pesan bahwa sumber energi nuklir merupakan sumber energi yang besar dan potensial untuk dimanfaatkan bagi kepentingan kehidupan manusia. Selain dari pada itu, model ini juga ingin menampilkan sisi baik dari energi nuklir sehingga masyarakat tidak memandang energi nuklir hanya sebagai bom atom atau bom nuklir, namun juga memandangnya sebagai sumber energi yang bermanfaat bagi kehidupan.

Model Vessel dari sebuah pembangkit listrik tenaga nuklir PWR ini adalah model generik, artinya yang ditampilkan bukan produk dari suatu perusahaan pembuat PLTN PWR. di dalam vessel inilah terjadi apa yang dinamakan reaksi inti nuklir dan karena sifat reaksinya berantai maka disebut sebagai reaksi berantai. Bagian Vessel ini adalah

1. Batang Kendali Reaksi Inti Nuklir

2 Gigi Pengarah Batang Kendali Reaksi Inti Nuklir

3. Pelat Bagian Atas

4. Saluran Masuk Air

5. Saluran Keluar Air

6. Bahan Bakar Nuklir

7. Pelat Bagian Bawah

sumber : disini

Baterai Berbahan Bakar Udara: Teknologi Terbaru Untuk Mobil Listrik

Diagram sel STAIR (St Andrews Air). Oksigen diambil dari udara bereaksi di dalam karbon berpori kemudian listrik dihasilkan di dalam baterai lithium-udara ini. (EPSRC)

Sekarang disain penyimpanan energi berbahan bakar udara baru dengan kapasitas penyimpanan energi sepuluh kali lebih lama sudah tersedia.

Arah baru di bidang ini dapat membuka jalan untuk generasi baru mobil listrik, ponsel dan laptop.

Penelitian yang dibiayai oleh Dewan Riset Teknik dan Ilmu Fisika (EPSRC) ini dipimpin oleh peneliti dari Universitas St. Andrews bekerja sama dengan Strathclydedan Newcastle.

Desain baru ini berpotensi meningkatkan kinerja produk elektronik portabel dan memberikan dorongan bagi industri energi yang dapat diperbarui. Baterai ini akan memungkinkan output listrik dari sumber-sumber seperti angin atau surya, yang akan berhenti menghasilkan energi ketika cuaca berganti atau saat malam hari tiba.

Kapasitas ini adalah berkat penambahan bagian yang memakai oksigen yang diserap dari udara ketika proses discharge, menggantikan satu kimiawi yang dipakai pada sistem baterai saat ini. Dengan tidak perlu membawa kimia dalam baterai akan memberikan peningkatan energi pada baterai dengan ukuran yang sama. Sejak dahulu produsen mobil listrik berusaha untuk mengurangi ukuran dan berat baterai dengan kapasitas isi yang diperlukan.

Sel STAIR (St. Andrews Air) seharusnya lebih murah daripada baterai rechargeable saat ini. Komponen baru tersebut terbuat dari karbon berpori, yang jauh lebih murah daripada lithium oksida kobalt pada baterai biasa.

Proyek penelitian empat tahun ini, yang telah mencapai separuh jalan pada Juli nanti menghasilkan penemuan di universitas bahwa interaksi komponen karbon dengan udara bisa berulang, menciptakan sikluscharge dan discharge. Hasil ini telah melipat-tigakan kapasitas penyimpanan pada sel STAIR.

Kepada proyek, Profesor Peter Bruce dari Departemen Ilmu Kimia di Universitas St Andrews mengatakan, “Sasaran kami adalah meningkatkan kapasitas penyimpanan lima hingga sepuluh kali lipat, yang mana melampaui batasan kemampuan baterai saat ini. Hasil kami sejauh ini sangat baik dan sudah jauh melampaui harapan kami.”

“Kuncinya adalah menggunakan oksigen di udara sebagai perantara, daripada membawa bahan kimia yang diperlukan masuk ke dalam baterai,” kata Bruce.

Oksigen yang ditarik dari permukaan baterai yang terekspos dengan udara, bereaksi di dalam pori karbon untuk membuang sisa baterai. “proses ini bukan hanya gratis, tapi komponen karbon juga jauh lebih murah daripada teknologi saat ini,” kata Bruce. Dia memperkirakan sel STAIR akan tersedia di pasaran setidaknya lima tahun lagi.

Proyek ini difokuskan untuk memahami lebih mendalam tentang bagaimana reaksi kimia pada beterai bekerja dan menyelidiki cara untuk meningkatkannya. Tim penelitian juga berusaha untuk menghasilkan sel protipe STAIR yang cocok untuk aplikasi kecil, seperti ponsel atau MP3 player.

sumber di google

Rancang Bangun dan Uji Kinerja Reaktor Kompos Skala Rumah Tangga

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya masalah dalam penanganan sampah perkotaan,
tingginya harga pupuk non organik. Untuk mengatasi permasalahan tersebut telah dilakukan penelitian
rancang bangun reaktor kompos skala rumah tangga sistem kontinyu dengan menggunakan
bioaktivator kompos untuk mempercepat proses dekomposisi. Penelitian dilaksanakan dari bulan Juli
2004 – Januari 2005 di Laboratorium Alat dan Mesin Pertanian dan pengujian kualitas kompos
dilakukan di Laboratorium UPT SDA Hayati Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran, Jatinangor.
Penelitian mengunakan metode rekayasa rancang bangun yang terdiri dari analisis teknis dan analisis
ekonomi dalam tahapan prosesnya. Reaktor kompos yang dirancang berupa tabung menyerupai drum
dari bahan plat besi, terdiri atas 20 lapisan/layer yang menunjukkan lamanya hari pengomposan.
Setiap hari tabung reaktor diisi dengan sampah organik rumah tangga 3 kg ditambah bahan
bioaktivator untuk mempercepat proses dekomposisi setiap kali sampah dimasukkan. Bioaktivator
terdiri atas campuran formula mikroba MINOSE ditambah serbuk gergaji, molase (atau gula) dan air
dengan perbandingan 4,94 ml : 2500 cc : 19,75 ml : 79 ml. Hasil rancangan diperoleh sebuah reaktor
kompos dengan panjang 60 cm, lebar 50 cm, tinggi 86 cm, dengan kapasitas produksi aktual sebesar
0,56 kg kompos per hari, dan dengan efisiensi 79 %. Biaya produksi sebesar Rp 218.100 dengan IRR
32 %, NPV Rp. 737.212,80, BC ratio 2,2 dan BEP 0,72 tahun. Dengan reaktor kompos ini dapat
dihasilkan kompos secara kontinyu setiap hari setelah proses dekomposisi berlangsung selama 21 hari.

konvensional ini, membutuhkan sejumlah
gerobak/truk pengangkut, rute transportasi truk sampah, dan lahan penampung sampah yang lokasinya
jauh dari pemukiman domestik, serta sejumlah insinerator untuk pembakaran sampah. Penyelenggara
sistem ini terutama adalah pemerintah yang dalam hal ini dilakukan oleh Dinas Kebersihan Kota (PD
Kebersihan) dengan hanya sedikit keterlibatan masyarakat. (Kramadibrata dan Kastaman, 2003).
Gambar 1. Sistem Pengelolaan Sampah Konvensional
Namun menurut Kramadibrata & Kastaman (2003), dari fakta di lapangan yang selama ini
terjadi, proses kerja yang ditampilkan oleh sistem ini memiliki beberapa kelemahan pokok , yaitu :
1. Masih terbatasnya penataan dan pemanfaatan sampah, terutama yang berbasis masyarakat.
2. Masih terbatasnya partisipasi atau keterlibatan masyarakat dalam penanganan dan pengelolaan
sampah.
3. Masih terbatasnya pengembangan potensi ekonomi dari sampah.
Salah satu alternatif untuk meningkatkan peran masyarakat sebagai produsen sampah dalam
pengelolaan sampah adalah Sistem Pengelolaan Sampah Terpadu. Sistem ini menitikberatkan pada
komunitas terkecil penghasil sampah yaitu rumah tangga, yang mempunyai andil dalam meningkatkan
volume sampah Kota Bandung sebesar 65 %. Prinsip sistem ini adalah pemilahan sampah organik dan
anorganik, daur ulang sampah non-organik, dekomposisi sampah organik menjadi kompos,
menampung kompos, sertifikasi kompos dan distribusi kompos ke pengguna. Sampah non organik
dapat didaur ulang dan diolah kembali. Hanya sekira 30 % atau 6 % dari total sampah yang tidak bisa
diolah kembali. Sampah organik bisa didekomposisi menjadi kompos sebagai pupuk atau silage
untuk pakan, dan selanjutnya bisa dijual.
Sampah TPS
Rumah
Insinerator
TPA
3
Berdasarkan uraian di atas diperlukan adanya rancang bangun reaktor kompos skala rumah
tangga untuk memproduksi kompos dalam waktu yang singkat, mempunyai kualitas yang baik dan
murah sehingga mendukung sistem pengelolaan sampah yang menunjang pertanian ramah lingkungan.
Tujuan penelitian ini adalah merancang bangun reaktor kompos skala rumah tangga, yang
dapat mengolah sampah organik menjadi kompos dalam waktu yang lebih singkat (21 hari) dan dapat
mengurangi ketergantungan pada pupuk non organik (buatan). Diharapkan dengan adanya reaktor ini
dapat lebih meningkatkan partisipasi masyarakat dalam mengelola kebersihan kota, mengurangi biaya
pengelolaan sampah, menghasilkan nilai tambah dari pemanfaatan pupuk organik (kompos) yang
menunjang pertanian ramah lingkungan, serta mengurangi pencemaran lingkungan, baik terhadap
tanah, air dan udara.
BAHAN DAN METODE
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian rekayasa,
(Herwanto, 2000) yaitu kegiatan penelitian perancangan yang tidak rutin sehingga di dalamnya
terdapat kontribusi baru, baik dalam bentuk proses maupun produk. Tahapan Peneltian ini adalah
seperti yang disajikan pada Gambar 2.
Penelitian dilaksanakan dari bulan Juli 2004 hingga Januari 2005 bertempat di Laboratorium Alat
dan Mesin Teknik Pertanian Universitas Padjadjaran, Jatinangor, sedangkan pengujian kualitas
kompos dilakukan di Laboratorium Tanah UPP SDA Hayati Jatinangor.
Alat yang digunakan dalam perancangan reaktor adalah : alat tulis, satu unit komputer. Alat
yang digunakan dalam pembuatan reaktor kompos terdiri dari : Perlengkapan las asetilen, las listrik,
gergaji besi, mesin bubut, gerinda, gerinda tangan, seperangkat perkakas (palu, tang, jangka, gunting
pemotong plat, penggaris siku, kunci pas), mesin bor, mesin pemotong plat, rivet.
Mulai
Observasi Kebutuhan
Kriteria Perancangan
Rancangan Fungsional
Rancangan Struktural
Analisis Teknik
Pembuatan Reaktor
Selesai
Pengujian
Reaktor
Pengujian tidak
Kompos
layak
layak
tidak
layak
Analsisis Ekonomi tidak
Gambar 2. Tahapan Penelitian
4
Alat ukur yang digunakan dalam pengujian reaktor kompos adalah : timbangan, pH meter
tanah, Thermometer digital merk Kern, dan Light Moisture Tester Tanah. Bahan yang digunakan
dalam penelitian ini di antaranya :
1. Silinder Besi diameter 40 cm tebal 2 mm
2. Besi siku 36 mm x 36 mm x 2 mm
3. Plat besi tebal 2 mm
4. Mur dan baut diameter 6,6 mm
5. Bantalan FYH P 204 diameter 20 mm
6. Besi poros diameter 20 mm
7. Sampah organik rumah tangga
8. Bio aktivator Biofresh
Sedangkan variabel yang diamati antara lain :
1. Laju Suhu Pengomposan
2. Keasaman (pH)
3. Waktu Pengomposan
4. Karakteristik Fisik Kompos (kadar air, warna kompos, ukuran partikel, bau)
5. Karakteristik Kimia Kompos
Prosedur pembuatan kompos yang dilakukan adalah sebagai berikut :
1. Sampah organik dipilah antara yang mudah didekomposisi dengan yang sukar didekomposisi
2. Sampah organik untuk pengomposan dikecilkan ukurannya sampai dengan ukuran 1 – 5 cm.
3. Sampah organik rumah tangga dicampur dengan serbuk gergaji dengan perbandingan 1 : 0,69
kemudian ditambah air sampai dengan kandungan air sekira 50 %.
4. Bioaktivator dicampur dengan molasses atau larutan gula merah kental dan air
5. Campuran bioaktivator disemprotkan ke dalam campuran bahan
6. Campuran bahan dimasukkan ke dalam reaktor
7. Setelah 20 hari campuran yang sudah menjadi kompos bisa di angkat
8. Kompos yang telah diangkat dikeringkan dengan cara diangin-anginkan
9. Kompos yang telah diangin-anginkan diayak dengan pengayak kawat
10. Kompos yang telah diayak dimasukkan ke dalam kemasan plastik
11. Simpan di tempat yang sejuk.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Analisis Teknik dan Rancangan Struktural
a. Komponen Struktural Reaktor Kompos
Komponen struktural raktor terdiri dari : ruang pengomposan, pemisah antar lapisan, tutup
reaktor, saluran udara, poros, bantalan, pegangan tutup reaktor (handgrip), rangka
5
b. Gambar Rancangan Reaktor Kompos
Gambar 3. Reaktor Kompos Hasil Rancang Bangun
c. Dimensi Reaktor
Model Reaktor kompos ini berukuran panjang 60 cm, lebar 50 cm, tinggi 86 cm dengan
kapasitas 0,9875 kg sampah/hari. Waktu pengomposan selama 20 hari. Kapasitas produksi 0,565 kg
kompos/hari, dan kapasitas efektif 79 %. Berat kosong reaktor sebelum diisi bahan kompos adalah
sebesar 12,5 kg.
Hasil Pengujian Reaktor
a. Suhu
Proses pengomposan mengalami 3 tahapan berbeda dalam kaitannya dengan suhu, yaitu :
mesophilic, thermophilic dan tahap pendinginan. Pada tahap awal mesophilic suhu proses akan naik
dari suhu lingkungan ke 40 oC dengan adanya fungi & bakteri pembentuk asam, tahap ini terjadi pada
hari 1 – 3 seperti yang ditunjukkan pada Gambar 4. Suhu proses akan terus meningkat ke tahap
thermophilic antara 55 – 65 oC selama 3 – 4 hari, dalam penelitian ini suhu maksimal yang dapat
dicapai adalah 53 oC, walaupun rata-rata suhu maksimal adalah 46,4 oC dimana mikroorganisme akan
digantikan oleh bakteri thermopilic, actinomycetes dan fungi, namun suhu tersebut masih dalam
kisaran suhu ideal minimum proses pengomposan (CPIS, 1992 dalam Darius,2000). Kondisi suhu
tersebut juga diperlukan untuk proses inaktivasi bila ada bakteri pathogen.
Tahap pendinginan ditandai dengan penurunan aktivitas mikroba dan penggantian
dari mikroorganisme thermophilic dengan bakteri & fungi mesophilic fase ini terjadi pada hari
ketujuh sampai hari ke empat belas. Aktivitas ini ditandai dengan penurunan suhu pengomposan
sampai sama dengan suhu lingkungan. Selama tahap pendinginan ini, proses penguapan air dari
material yang telah dikomposkan akan masih terus berlangsung, demikian pula stabilisasi pH dan
penyempurnaan pembentukan humus.
Kadar air, suplai udara, ukuran dan bentuk tumpukan, kondisi lingkungan sekitar dan
kandungan nutrisi sangat mempengaruhi suhu dalam tumpukan kompos. Kecenderungan suhu akan
lebih rendah jika kondisi kadar air berlebih karena panas yang dihasilkan akan digunakan untuk proses
penguapan. Sebaliknya kondisi kadar air yang rendah akan menurunkan aktivitas mikroba dan
menurunkan kecepatan pembentukan panas.
6
Gambar 4. Grafik Rata-rata Perubahan Suhu Pengomposan
b. Tingkat Keasaman (pH)
Tingkat keasaman (pH) kompos hasil pengujian yang dilakukan dengan analisis potensiometri
dengan H2O adalah 7,3 dengan KCL 1 N 7,3 sedangkan dengan menggunakan alat pengukur pH tanah
rata-rata adalah 6,99. Standar nasional untuk tingkat keasaman kompos dari sampah rumah tangga
adalah antara 6,80 – 7,49. Selama proses dan dalam tumpukan umumnya kondisi pH bervariasi dan
akan terkontrol dengan sendirinya
c. Nisbah C/N
Nisbah C/N kompos yang dihasilkan pada pengujian mencapai 19, Unsur Karbon dan
Nitrogen keduanya dibutuhkan sebagai sumber energi untuk pertumbuhan mikroorganisme.
d. Kadar air
Kadar air diukur menggunakan alat pengukur kadar air dan pH tanah diperoleh rata-rata kadar
air adalah 37,4 %. Sedangkan menurut pengujian di laboratorium kadar air sampel kompos 66 %.
Kadar air akhir kompos menjadi berkurang karena selama proses pengomposan ada pelepasan
kandungan air, terutama setelah diangin-anginkan.
e. Warna Kompos
Warna kompos hasil pengujian berwarna hitam kecoklatan menyerupai warna tanah, ini
merupakan indikator kompos matang.
g. Bau (odor)
Pada pengujian tidak timbul bau yang menyengat yang biasanya timbul pada proses
dekomposisi sampah. Pada kompos hasil pengomposan bau yang timbul sama dengan bau tanah. Bau
yang ditimbulkan pada proses pengomposan disebabkan oleh nisbah C/N yang rendah yang
menyebabkan terbentuknya amoniak sehingga nitrogen akan hilang ke udara dalam bentuk amoniak
yang menyebakan bau tidak sedap.
Menurut hasil penelitian Kramadibrata & Kastaman (2003), beberapa faktor yang
harus diperhatikan dalam proses pengomposan antara lain :
1. Kadar air optimum untuk proses pengomposan yang efisien berkisar antara (50-60)%.
7
2. Ukuran partikel sampah yang akan dibuat kompos optimum berkisar antara 10-50 mm
untuk memudahkan proses dekomposisi oleh mikroba pengurai, mengingat makin kecil
ukuran, luas permukaan bahan yang akan didekomposisi akan makin besar.
3. Aerasi atau sirkulasi udara dalam reaktor. Pada reaktor berlangsung proses dekomposisi secara
aerob, sehingga suplai oksigen pada timbunan kompos harus cukup. Sehingga untuk reaktor
dengan tidak menggunakan proses pembalikan sampah, maka penumpukan sampah yang akan
dikomposkan tidak melebihi 90 cm dan pada tiap lapisan reaktor diberi rongga untuk sirkulasi
udara agar kandungan oksigen mencukupi.
4. Suhu sangat penting untuk menurunkan nisbah C/N, membunuh biji gulma, bakteri pathogen,
parasit dan telur-telurnya. Suhu yang terjadi selama proses dekomposisi berkisar 60 – 70 oC.
h. Ukuran Kompos
Ukuran kompos untuk kompos dari sampah organik rumah tangga adalah antara 0,55 – 25 mm.
Pada penelitian ini yang lolos pengayakan menggunakan kawat dengan ukuran lubang 6 x 6 mm dan
yang lolos adalah sebesar 93,25 %. jadi rata-rata kompos yang dihasilkan adalah kompos halus.
Hasil Pengujian Kualitas Kompos
Hasil pengujian kualitas kompos adalah sebagai berikut :
Tabel 1. Perbandingan kualitas kompos hasil pengujian dengan kualitas kompos
dari sampah organik domestik (SNI No.19-7030-2004)
No Nilai
.
Parameter Satuan
SNI Hasil pengukuran
Keterangan
1. Kadar Air % < 50 37,4 Sesuai
2. Temperatur 0C Suhu
udara
25,6 Sesuai
3. Warna Kehitama
n
Kehitaman Sesuai
4. Bau Tidak bau Tidak berbau Sesuai
5. Ukuran Partikel Mm 0,55 – 25 Lolos ayakan 6
mm 93,25%
Sesuai
6. Kemampuan Ikat Air % 58,72 Tidak diukur -
7. Ph 6,80 –
7,49
7,1 -7,3 Sesuai
8. Bahan Asing % 0 0 Sesuai
Unsur Makro
9. Bahan Organik % 27 – 58 115,9 Lebih besar
10. Nitrogen % 0,4 3,62 Sesuai
11. Karbon % 9,81–
32,28
67,23 Lebih besar
12. Phosphor(P2O5) % 0,39 Tidak ada standar
13. C/N Ratio 9,38-20 18,57 Sesuai
14. Kalium (K2O) % 0,59 Tidak ada standar
Unsur Mikro
15. Arsen Mg/kg < 0,50 Tidak diukur Logam berat
16. Cadmium(Cd) Mg/kg < 3 Tidak diukur Logam berat
17. Cobal (Co) Mg/kg < 34 Tidak diukur Logam berat
18. Chromium (Cr) Mg/kg < 210 Tidak diukur Logam berat
19. Tembaga (Cu) Mg/kg < 100 Tidak diukur Unsur mikro
8
20. Mercuri (Hg) Mg/kg < 0,8 Tidak diukur Logam berat
21. Nikel (Ni) Mg/kg < 62 Tidak diukur Logam berat
22. Timbal (Pb) Mg/kg < 150 Tidak diukur Logam berat
23. Selenium(Se) Mg/kg < 2 Tidak diukur Logam berat
24. Seng (Sn) Mg/kg < 500 Tidak diukur Unsur mikro
Unsur Lain
25. Calsium % < 25,49 6,83 Sesuai
26. Magnesium (Mg) % < 0,63 7,31 Unsur mikro
27. Besi (Fe) % < 2,03 113,57 Unsur mikro
28. Alumunium (Al) % < 2,20 Tidak diukur Unsur mikro
29. Mangan (Mn) % < 0,06 186,05 Unsur mikro
Bakteri
30. Fecal Coli MPN/gr < 1000 Tidak diukur
31. Salmonella sp. MPN/4 gr < 3 Tidak diukur
Organisme pathogen
32. KTK C mol kg -1 – 47,9 Tidak ada standar
Hasil Analisis Ekonomi
Biaya konstruksi atau biaya produksi model reaktor ini apabila bahan konstruksi sebagian
menggunakan bahan bekas adalah sebesar Rp 218.100 sedangkan bila seluruhnya bahan baru sebesar
Rp 276.000.
Hasil perhitungan kelayakan ekonomi menunjukkan bahwa nilai Internal Rate of Return (IRR)
pengoperasian reaktor ini adalah sebesar 32 %, kemudian Net Present Value Rp. 737.212,80.
Sedangkan B/C Ratio nya adalah sebesar 2,2 % dan BEP 0,72 tahun untuk umur reaktor selama 5
tahun. Dilihat dari kelayakan investasi, alat ini layak secara ekonomi.
Pembahasan
Berdasarkan hasil pengujian masih dijumpai beberapa kelemahan pada reaktor kompos yang
dirancang. Kelemahan-kelemahan tersebut antara lain :
1. Konstruksi tutup tangki reaktor di bagian bawah tidak berlubang, sehingga dengan konstruksi
tersebut akumulasi air yang tertampung di bagian bawah reaktor semakin banyak. Kondisi ini akan
berdampak pada tingkat kadar air untuk kompos di lapisan paling bawah akan makin besar
mengingat sampah yang diisikan tiap hari ke dalam reaktor masih mengandung air. Untuk itu
diperlukan perbaikan konstruksi tutup tangki reaktor bagian bawah dengan membuat lubang dan
pengarah keluaran air gravitasi dari tumpukan sampah yang ada dalam reaktor.
2. Kompos yang diperoleh masih bercampur dengan bahan yang sukar terdekomposisi seperti tulang,
biji-bijan atau kulit buah keras. Oleh karena itu diperlukan perbaikan pada prosedur pemilahan
sampah yang akan dimasukan ke dalam reaktor.
3. Saat kompos dari lapisan pertama reaktor diperoleh di hari ke 21, pada lapisan dinding reaktor
terdapat tanda-tanda korosif pada bahan (warna kuning pada tangki besi dari reaktor). Untuk itu
diperlukan perbaikan pada dinding reaktor dengan terlebih dahulu diberi lapisan cat atau ter untuk
menghindari korosi. Alternatif lain dengan menggunakan bahan tangki reaktor yang lebih tahan
lama seperti plastik.
9
Walapun demikian secara umum kinerja reaktor kompos ini sudah memenuhi kriteria yang
diinginkan, yaitu tidak berbeda jauh dengan standar yang ditetapkan melalui SNI.
SIMPULAN
1. Reaktor sesuai untuk diterapkan untuk mengatasi permasalahan sampah khususnya pada skala
rumah tangga, dengan beberapa kelebihan yang dimiliki, yakni : dapat diisi secara kontinyu, dapat
mereduksi bau sampah karena adanya aktivitas mikroba dari bioaktivator, mempercepat proses
dekomposisi, kompos dapat dihasilkan untuk lapisan pertama pada hari ke 21.
2. Kualitas kompos yang dihasilkan secara umum sesuai dengan standar nasional yang telah
ditetapkan, sehingga baik untuk diaplikasikan untuk bidang pertanian.
3. Secara ekonomi penggunaan reaktor ini layak untuk diaplikasikan mengingat dengan biaya
produksi sebesar Rp 218.100, alat ini mampu memberikan tingkat pengembalian invetasi (IRR)
sebesar 32 %, kemudian Net Present Value Rp. 737.212,80 dengan nilai B/C Ratio sebesar 2,2 %
dan BEP 0,72 tahun.
4. Aplikasi model reaktor kompos skala rumah tangga ini akan memberi manfaat yang besar
disamping penggunaan komposnya untuk pertanian juga sebagai alternatif solusi masalah sampah
kota yang hingga saat masih mengandalkan pada pembuangan sampah ke tempat pembuangan
sampah akhir, yang sarananya semakin terbatas dan sulit.
Saran
1. Untuk mengetahui hasil kinerja aktual reaktor ini perlu dilakukan pengujian adaptasi di
lingkungan rumah tangga.
2. Diperlukan adanya pengujian kadar kandungan unsur-unsur mikro pada kompos hasil pengujian,
mengingat dalam penelitian ini hal tersebut belum dilakukan.
3. Kompos yang dihasilkan dari reaktor ini disarankan untuk diujicobakan pada tanaman sehingga
dapat dibuktikan kelebihan dan kekurangan kompos yang diperoleh terhadap tanaman. Disamping
itu juga dapat diketahui komposisi aplikasi kompos yang tepat untuk jenis tanaman yang akan
dipupuk dengan menggunakan kompos ini.

DAFTAR PUSTAKA
Darius. 2001. Perancangan reaktor kompos skala rumah tangga. Skripsi. Jurusan Teknologi Pertanian.
Fakultas Pertanian Universiatas Padjadjaran. Jatinangor. (tidak dipublikasikan)
Herwanto, T. 2000. Modul rancang bangun mesin dan peralatan pasca panen kacang tanah pada
produksi dan pengolahan kacang tanah sebagai kegiatan usaha agribisnis. LPM Unpad.
Bandung.
Kramadibrata, A., dan Roni Kastaman. 2003. Introduksi teknis sistem pengelolaan sampah terpadu
(SILARSATU). Laporan Kajian Riset Terapan. Kerjasama LPM Unpad dengan Litbang Kota
Bandung. (tidak dipublikasi)
PD. Kebersihan Kota Bandung. 2003. Rata-rata produksi sampah per hari di kota Bandung tahun
2001/2002. Available at : http://www.bappeda-bandung.go.id. 7 November 2003.
SNI no.19-7030-2004. Spesifikasi kompos dari sampah organik domestik. Pusat Penelitian dan
Pengembangan Permukiman, Bandung.

selengkapnya dapat di undu disini

Nano Teknologi Di Indonesia

Didunia sana

Nanokomposit
Digunakan pada plastik, dipelopori oleh pabrik mobil General Motor dan Toyota. Plastik akan lebih tahan gores, ringan-kuat, sehingga mengurangi beban mobil dan mengurangi biaya bahan Imagebakar, umur pemakaian lebih panjang. Toyota telah mempergunakan sejak 2001 untuk bumper, dapat mengurangi berat hingga 60% dan dua kali lebih tahan benturan dan gores. Industri transportasi akan dapat menarik keuntungan dari penggunaan nanokomposit ini. Nanoclay dapat meningkatkan ketahanan akan permeabilitas sehingga bagus untuk penggunaan pengemas makanan dan minuman. Selain itu nanoclay juga dapat dipergunakan untuk mengurangi kemudahan plastik untuk terbakar. Nanoclay dilapisi dengan butyl rubber membuat bola tennis lebih memantul dan tahan lama.
Nanokristal
Logam nanokristal mempunyai kekuatan mekanik lebih tinggi, lebih tahan gores, sehingga dapat digunakan sebagai ‘bearing’ atau alat lain seperti komponen kompoter, sensor dan lainnya. Kekerasan logam meningkat dua hingga tiga kali lipat. Nano kristal juga dapat mengabsorb dan memancarkan cahaya dengan berbeda warna (Quantum DotTM). Nanosilver telah dipasarkan, dapat dimasukkan kedalam polimer, tekstil, dapat membunuh bakteri dalam waktu 30 menit. Nano kristal dapat mengabsorb cahaya matahari lebih bagus sehingga dapat dipergunakan untuk alat potovoltaik.
Nanopartkel
Dipergunakan pencegah kotor pada pakaian dimana pada permukaan direkatkan bulu-bulu dengan ukuran nano sehingga mirip permukaan daun talas. Polimer ukuran nano mulai dari 10 nm hingga 100 nm dipergunakan untuk cat tembok luar, perekat, pelapis kertas, pelapis kain, juga kosmetik sebagau penahan sinar UV. Penahan cahaya matahari juga merupakan contoh penggunaan nanopartikel. Karena ukuran yang kecil sehingga mudah didespersikan dan mengabsurb sinar UV. Penggunaan penahan cahaya ini sangat luas di Australia hingga menguasai pasar 60%. Nanopartikel alumunium dipergunakan untuk campuran propelan (bahan bakar) dapat mempercepat pembakaran hingga dua kali lipat. Nano tembaga dicampurkan minyak pelumas untuk mencegah keausan mesin. Nano kalsium dan posfat komposit dipergunakan sebagai tulang sintetis sebagai penggan tulang manusia.
Bahan nanostruktur
Nanodyne membuat logam paduan dengan sintering komposit bubuk dari Tunsten-karbida-kobalt yang mempunyai ukuran partikel 15 nm. Diperoleh bahan mempunyai kekerasan sama dengan intan dan dipergunakan untuk alat pemotong, bor, bahan mesin jet, bahan tahan peluru. Kodak memproduksi OLED (‘organic light emitting diode’) layar berwarna  sehingga memungkinkan diperolehnya layar yang lebih tipis, lentur, kurang konsumsi enerji untuk layar komputer, telepon genggam, televisi dan alinnya. OLED diharapkan dapat menggantikan Tabung TV, LCD (liquid crystal display).
Nanotubes
Mirip dengan serat mempunyai diameter beberapa nanometer, sangat kuat, bersifat kondukto, dapaty pejal atau beronggar. Carbon nano tube berdasarkan emisi elektron dapat dipergunakan pula untuk layar monitor monokrom. Dari BBC News dilaporkan: riset sedang dikembangkan nanotube dengan lebar separuh molekul DNA dipergunakan untuk menyalurkan cahaya ‘near-infra red’ dari laser ke sel kanker. Kemudian jaringan kangker dipanaskan dengan cahaya tersebut hingga 70 oC dalam waktu 2 menit dan sel menjadi rusak. Jika berhasil cara ini akan menggantikan penggunaan kemoterapi yang  merontokan rambut.
Nanokatalis
Katalis skala nano berbasis gel dapat dipergunakan untuk mencairkan batu bara yang kemudian dijadikan minyak disel, bensin. Cara ini disukai karena dapat mengurangi kadar belerang pada penggunaan batubara. Ukuran nano mempunyai permukaan yang sangat luas. Sehingga sangat efektif, murah untuk dipakai sebagai katalis konverter pada mobil.
Nanofilter
Serat alumina ukuran nano dapat dipakai untuk menyaring partikel ukuran sangat kecil, 99,9999% virus dengan kecepatan aliran beberapa ratus kali lebih besar dibanding membran ultra filtrasi. Sehingga air minum tidak memerlukan sterilalisasi lagi.
Sumber : (www.nanotech-now.com- Current Uses)
Indonesia
Beberapa industri telah mempergunakan bahan nano partikel atau berusaha untuk memproduksinya. Ukuran partikel pada umumnya masih sekitar 300 nm.  Karbon black telah lama dipergunakan oleh industri karet atau ban. Titanium oksida dengan ukuran yang sama untuk industri kertas, cat tembok, pipa plastik. Kalsium karbonat, silika dipergunakan untuk filer tinta, dan industri plastik.
Produk nanosilver (perak) dengan ukuran yang lebih kecil antara 10-100 nm, telah masuk di Indonesia sebagai produk anti mikroba Produk telah beredar  dalam bentuk cat tembok luar, wadah makanan plastik, sikat gigi, plester, dan baju dalam.
Riset telah dilakukan sendiri-sendiri di universitas dan lembaga riset negara lebih awal. Seminar tetntang nanoteknologi juga telah diadakana diberbagai tempat. Web site masyarakat naono teknologi di Indonesia dapat di klik di www.nano.lipi.go.id. Mulai dari tahun 2005 pemerintah melalui Kementerian  Negara Riset dan Teknologi memberikan bantuan dana untuk riset bidang nano teknologi

Aktifitas Nanoteknologi di berbagai lembaga:

FT UI akan mengembangkan alat sensor nano, melakukan studi nano komposit magnit dan bahan struktur nano. Bersama dengan P2F LIPI membuat disain planetary ball mill untuk membuat bahan nano partikel.
ITB, Dep Fisika mempunyai potensi  untuk membuat lapisan nano pada bahan magnit dalam bentuk Quantum Dot partikel nano silika. Dep Fisika Teknik mengembangkan pembuatan nano silika dengan metoda sol-gel.

UGM, Dep Kimia mempunyai potensi membuat bahan katalis nano.
UPH Universitas Pelita Hrapan,di Karawaci, Tangerang, mempunyai pusat penelitian nanoteknologi dan bioteknologi.
LIPI, P2F membuat baja partikel nano dengan metoda ‘mechanical alloying’, juga mampu membuat bahan silika nano partikel untuk bahan bangunan dan mempersiapkan lapisan tipis dengan ‘sputtering’. PPET sedang mendisain sensor seperti LED, CO2, biosensor untuk mengontrol gula dalam darah.
BATAN, P2TBDU mengembangkan teknologi pelapisan grafit pada struktur untuk menjadi pelumas padat. P3IB sedang mengembangkan bahan fero magnetik untuk agen kontras MRI, dan nanokomposit NdFeB. P3TIR sedang membuat bio-material  hydroxyapatite (HAp) sebagai bahan biokompatibel untuk mengganti bahan gigi dan tulang manusia.
BPPT, P3TM mengembangkan nano komposit, keramik, dan bahan biokompatibel. STP mengembangkan nano komposit  berbasis tanah liat dengan polimer.
Beberapa industri mengembangkan bahan ukuran nano untuk silika dan kalsium karbonat.
Pada tahun anggaran 2005 KMNRT mempunyai progran dukungan non-insentive dibidang nano teknologi. Program ini ditawarkan nano teknologi pada kelompok peneliti Indonesia untuk mengajukan usulan penelitian. Pada tahun anggaran 2006 pemerintah menyediakan  dana dengan lebih dari 750 juta.. Lima topik judul penelitian disetujui untuk mendapatkan dana setelah dilakukan seleksi dari 35 pengusul.  Kelompok peneliti yang diterima untuk mendapatkan dana adalah Fisika LIPI dengan topik Pengembangan Prototipe Alat  Pembuatan Nano Partikel, Elektronika LIPI  dengan topik Pengembangan Penyusunan Prototipe Alat Mikro, BATAN dan ITS dengan topik Pengembangan Bahan ‘Coating’, UGM dengan topik Penyusunan Prototipe Bahan –Bio/Kompatibel Biomaterial, BPPT dan UI  dengan topik Penyusunan Prototipe Komposit/Polimer/Katalis.
Pada saat ini produk yang sudah ada dipasaran hingga saat ini adalah: nano silver, carbon black (300 nm), silika (300 nm), TiO2 (300 nm), Nanotube, Nanoclay dan mungkin segera produk lainnya.
Johan Nasiri, 06-06-06